Jumat, 01 Januari 2010

Aib sebagai wajah Reality Show


Banyak orang yang merasa begitu terhibur ketika mengetahui aib orang lain, bisa tertawa dengan girangnya karena menganggap diri paling baik. Barangkali inilah yang menjadi alasan beberapa media penyiaran khususnya televisi untuk terus menciptakan reality show yang objek utamanya adalah orang-orang yang memiliki aib.

Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat spot promo sebuah reality show yang cukup panas. Saya jadi penasaran apa sebenarnya yang disajikan. Kemudian akhirnya saya memutuskan untuk menonton acara itu. Judulnya sebenarnya cukup menarik ” Masihkah kau mencintaiku ” dengan menghadirkan satu keluarga yang tidak harmonis yang sudah pisah ranjang. Kedua orang tua dari suami istri ini juga hadir bahkan anak mereka pun turut menyaksikan dialog-dialog yang tidak pantas untuk seorang anak yang masih sangat belia.

Lalu apa yang disajikan? Keburukan masing-masing suami istri dari yang kecil sampai dengan yang paling besar. Caci makian dan hinaan tidak hanya antara suami istri tapi juga melibatkan antara mertua dengan mertua. Ironis ketika mereka saling memaki dan saling menghina, audience memberikan applause yang cukup keras.

Reality show lainnya yang cukup mengumbar aib adalah Curhat dengan Anjasmara. Disini bahkan pemirsa menyaksikan adegan kekerasan antara pihak-pihak yang bermasalah. Kental dengan caci makian dan hinaan, kata-kata yang tidak pantas yang justru membuat orang bertepuk tangan.

Tentu tidak hanya reality show di atas yang menjadikan aib sebagai objek tetapi ada begitu banyak dengan kemasan yang agak sedikt berbeda. Hal yang memprihatinkan mengapa semakin banyak orang yang mau mengkomersilkan aibnya sebagai tontonan publik? Sejatinya persoalan-persoalan rumah tangga dapat diselesaikan secara internal.

Keperihatinan tentunya tidak hanya tertuju kepada media sebagai penyaji dan orang-orang yang mau dijadikan sebagai objek tetapi yang terbesar kepada fungsi dari Komisi penyiaran indonesia yang telah membuat peraturan komisi penyiaran indonesia Nomor 03 Tahun 2007 tentang standar program siaran. ” Lembaga penyiaran harus memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan. Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecendrungan menghina /merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar ”

Reality show dengan konsep diatas tentulah mempunyai pesan, tetapi etis dan mendidik kah menjadikan aib orang lain sebagai hiburan? ( Ina Rizqina )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar