
INILAH.COM, Jakarta – Sexting melanda anak muda dunia. Sudah ada dua kasus bunuh diri karenanya. Jajak pendapat terbaru menunjukkan lebih dari seperempat anak muda di AS adalah pelaku sexting.
Sexting merupakan perilaku berbagi foto, video dan chatting materi pornografi lewat ponsel atau online. Namun kegiatan ini telah menimbulkan dua korban. Witsell Hope 13 tahun gantung diri setelah lelah mendapat ejekan dari teman sekolahnya di Florida AS.
Awalnya dia mengirimkan foto telanjangnya pada anak laki-laki yang disukainya. Seorang gadis lain menggunakan telepon untuk mengirim foto itu pada siswa lain, dan akhirnya diteruskan pada banyak anak-anak yang lain. St Petersburg Times adalah yang pertama melaporkan kematian Hope itu pekan ini.
Tahun lalu di Cincinnati, Jessica Logan (18) gantung diri setelah berminggu-minggu mendapat ejekan di sekolah. Peristiwa yang dialami Logan hampir sama dengan Hope. Logan mengirim foto telanjang dari ponsel untuk pacarnya. Namun saat putus, pacarnya meneruskan foto itu ke gadis-gadis lain.
Penelitian menunjukkan seperempat ABG AS melakukan sexting, sementara sekitar sepertiga dari remaja yang lebih tua melakukan hal serupa. Mereka yang disurvei menyatakan telah mengirimkan foto-foto telanjang kebanyakan pada pacar, atau yang memiliki ketertarikan secara romantis.
Sebanyak 14% mengatakan, mereka mencurigai foto-foto itu dibagikan tanpa izin. Tujuh belas persen dari mereka yang menerima gambar telanjang mengatakan meneruskan pada orang lain, sering kali untuk lebih dari satu orang.
Secara keseluruhan, 1 dari 10 jajak pendapat mendapati mereka telah mengirimkan foto telanjang diri sendiri lewat ponsel atau secara online. Sekitar 50% mengatakan sexting adalah masalah serius. Namun para ABG dan remaja ini tetap melakukannya juga.
Jajak pendapat itu dilakukan sebagai bagian dari kampanye MTV, "A Thin Line," bertujuan untuk menghentikan penyebaran penyalahgunaan digital.
Lalu bagaima para pakar melihat fenomena itu? "Ada faktor tak terkalahkan dalam perasaan anak-anak muda," kata Kathleen Bogle, profesor sosiologi di La Salle University di Philadelphia.
Penelitian menunjukkan otak remaja belum cukup matang untuk membuat keputusan yang baik secara konsisten. Pada usia pertengahan belasan tahun, pusat penghargaan otak, bagian yang terlibat dalam gairah emosional, telah berkembang dengan baik sehingga membuat remaja lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya.
Sementara bagian korteks frontal otak tidak berkembang sampai awal 20-an. Padahal bagian ini menghubungkan penalaran dengan emosi dan mempermudah orang untuk menimbang konsekuensi.
Di luar perasaan tak terkalahkan, orang muda juga memiliki pandangan yang jauh berbeda terhadap foto seksual yang boleh diposting online, kata Bogle.
Ia mengatakan anak muda tidak berpikir bahwa foto-foto itu mungkin akan menjadi pertimbangan calon pencari kerja atau petugas penerimaan perguruan tinggi. “Kadang-kadang mereka menganggapnya sebagai lelucon, mereka memilih tertawa tentang hal itu," jelas Bogle.
"Dalam beberapa kasus, hal itu dilihat sebagai godaan. Mereka menganggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu serius dan tidak memikirkan konsekuensinya. Mereka juga tidak memikirkan skenario terburuk yang orang tua mungkin khawatirkan, (Budi Winoto)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar